PERAN SANTRI DALAM MEMBUMIKAN AL-QUR’AN :: Pemilu Lurah Ma`had Al-Jami`ah, Pegantian Kepemimpinan Lurah Ma`had Al-Jami`ah STAIN Kudus Baru tahun Periode 2018/2019 :: Pelatihan Bahasa Inggris, Sebagai Media Pengembangan Mahasantri STAIN Kudus :: Matrikulasi Mahasiswa Bidikmisi 2017 :: Speech Contest, Ajang Pengembangan Bahasa Asing Mahasiswa Bidikmisi STAIN Kudus ::

PERAN SANTRI DALAM MEMBUMIKAN AL-QUR’AN

Diposting oleh : Ma`had Al-Jami`ah
Kamis, 08 Februari 2018 - 10:56:22 WIB
PERAN SANTRI DALAM MEMBUMIKAN AL-QUR’AN
Compiled by: Mohammad Salahuddin Al-Ayyubi

“Jika kalian menginginkan ilmu, maka selamilah Alquran karena di dalamnya terdapat ilmu orang-orang terdahulu dan yang akan datang.” (Abdullah bin Mas'ud RA)

Pengertian Santri
KH Hasani Nawawie dari Pondok Pesantren Sidogiri pernah merumuskan definisi santri seperti berikut:
السنتري بِشَاهِدِ حَالِهِ هُوَ مَنْ يَعْتَصِمُ بِحَبْلِ اللهِ اْلمَتِيْنِ وَيَتَّبِعُ سَنَّةَ الرَّسُوْلِ اْلاَمِيْنِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلاَ يَمِيْلُ يُمْنَةً وَلاَيُسْرَةً فِىْ كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ هَذَا مَعْنَاهُ بِالسِّيْرَةِ وَالْحَقِيْقَةِ لاَ يُبَدَّلُ وَلاَيُغَيَّرُ قَدِيْمًا وَحَدِيْثًا وَاللهُ اَعْلَمُ بِنَفْسِ اْلاَمْرِ وَحَقِيْقَةِ اْلحَالِ
“Santri Berdasarkan peninjauan tindak langkahnya adalah orang yang berpegang teguh dengan al-Qur’an
dan mengikuti sunnah Rasul serta teguh pendirian. Ini adalah arti dengan bersandar sejarah
dan kenyataan yang tidak dapat diganti dan diubah selama-lamanya. Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui
atas kebenaran sesuatu dan kenyataannya.”
Dari pengertian tersebut bisa disimpulkan bahwa tiap santri haruslah mempunyai tiga karakter untuk bisa diakui sebagai santri. Dalam Buku Saku Santri yang diterbitkan oleh Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri terdapat keterangan bahwa kata santri adalah singkatan dari inSAN TRIlogi, yakni manusia dengan tiga ideologi: Islam, Iman dan Ihsan. Keterangan ini lebih mengarah pada status santri yang lebih khusus, karena keteguhan terhadap tiga hal itu sudah tidak lagi dibebani oleh sekat ekologi, peraturan dan lain-lainnya, karena tiga perkara di atas adalah pondasi vital paradigma agama (Islam) seutuhnya. Definisi santri yang telah dirumuskan oleh KH Hasani Nawawi di atas memiliki arah pada tiga ideologi tersebut, karena definisi santri ini memiliki tiga unsur inti.
Pertama, berpegang teguh pada Al-Qur’an (hablillah al-matin). Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abi Sa‘id al-Khudri Rasulullah berkata “Kitab Allah (Al-Qur’an) adalah tali Allah (hablullah)”. Dalam hadits lain Rasulullah bersabda “Al-Qur’an adalah hablullah yang tidak akan habis kajaibannya.” Lebih jelas lagi dalam QS Ali Imran 1-3 Allah berfirman “Berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah (hablullah) dan jangan bercerai-berai.” Izzuddin bin Abdus Salam berpendapat bahwa Al-Qur’an dikatakan hablullah (tali Allah) karena bisa menyelamatkan orang yang berpegang teguh dengannya dari mala petaka seperti tali bisa menyelamatkan pemegangnya dari jatuh ke dalam sumur dsb.
Kedua, Sunnah Rasul. Sunnah Rasul adalah masadir al-tasyri yang kedua setelah Al-Qur’an. Dalam salah satu hadits, Rasulullah bersabda, “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Apabila kalian berpegang teguh dengan keduanya, kalian tidak akan tersesat selamanya: Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.”
Ketiga, istiqamah (konsisten atau kontinu). Berpegang teguh dengan dua prinsip di atas tidak akan dapat dinilai baik bila tidak dilandasi dengan konsistensi yang tinggi. Dalam salah satu hadits Rasulullah saw bersabda, “Yang paling Allah sukai adalah hal yang kontinu, walaupun sedikit.”
Jadi, pengertian santri yang dirumuskan oleh KH Hasani Nawawie tersebut lebih mengedepankan prinsip secara esoteris dari pada indikasi eksoteris, karena keteguhan terhadap tiga unsur ini harus dilandasi dengan tiga ideologi tersebut. Dengan demikian status santri bisa disandang oleh siapapun saja dengan tidak harus berada di dalam pesantren (santri ekologi) , namun juga bisa disandang oleh manusia yang memenuhi syarat berupa berpegang teguh pada Al-Qur’an, Sunnah Rasul dan selalu istiqamah. Inilah yang dimaksud tipikal santri secara prinsip. Santri yang sebenar-benarnya santri. Allahu a‘lam binafsil amri.
________________________________________________
Nilai Plus Santri
Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit RA, Rasulullah SAW bersabda :
مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
Artinya:
“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)-nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)” [HR Abu Dawud].

Catatan Alvers
Kisah Pertama
Dikisahkan bahwa seorang pimpinan sebuah perguruan tinggi di indonesia tidak puas dengan output pendidikan modern walaupun sudah bergonta-ganti kurikulum. Ia memutuskan untuk pergi ke Timur Tengah untuk meminta masukan dari seorang syaikh tentang bagaimana sistem pendidikan terbaik untuk mencetak output yang memiliki pekerjaan yang layak. Merespon pertanyaan sang rektor ini, syaikh berkata :   “Ceritakanlah terlebih dahulu bagaimana sistem pendidikan saat ini di Indonesia mulai jenjang paling bawah sampai paling atas?”
Rektor : “Paling bawah mulai dari SD selama  6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, D3 3 tahun atau S1 4 tahun, S2 sekitar 2 tahun, dan setelah itu S3 untuk yang paling tinggi.”
Syaikh : “Jadi untuk sampai S2 saja butuh waktu sekitar 18 tahun ya? Lalu jika seseorang hanya lulusan SD (6 tahun), pekerjaan apa yang akan ia didapat?”
Rektor : “Paling hanya buruh lepas atau tukang sapu jalanan, tukang kebun dan pekerjaan sejenisnya. Tidak ada pekerjaan yang bisa diharapkan jika hanya lulus SD di negeri Kami.”
Syaikh : “Jika Lulus SMP bagaimana?”
Rektor : “Mungkin jadi office boy (OB) atau cleaning service.”
Syaikh : “Kalau SMA bagaimana?”
Rektor : “Masih agak mending pekerjaan nya di negeri Kami, bisa sebagai operator di perusahaan-perusahaan.”
Syaikh : “Kalau lulus D3 atau S1 bagaimana?”
Rektor : “Bisa sebagai staff di kantor dan S2 bisa langsung jadi manager di sebuah perusahaan.”
Syaikh : “Berarti untuk mendapatkan pekerjaan yang layak di negeri Anda minimal harus lulus D3/S1 atau butuh pendidikan selama 15-16 tahun ya?”
Rektor : “Iya betul”
Syaikh : “Sekarang coba bandingkan dengan pendidikan yang Islam ajarkan. Jika seseorang selama 6 tahun pertama (SD) hanya mempelajari dan menghapal Al-Qur’an sehingga menjadi hafidz, Adakah hafidz Qur’an di negeri Anda yang bekerja sebagai buruh lepas atau tukang sapu seperti yang Anda sebutkan tadi untuk orang yang hanya Lulus SD?”
Rektor : “Tidak ada”
Syaikh : “Jika ia melanjutkan 3 tahun berikutnya sehingga ia menghapal ratusan hadits, apakah ada di negara Anda orang yang hapal Al-Qur’an 30 juz dan ratusan hadits menjadi OB atau cleaning service seperti lulusan SMP?”
Rektor : “Tidak ada”
Syaikh : “Kalau ia melanjutkan belajar 3 tahun setelahnya hingga ia menguasai tafsir Al-Qur’an, apakah ada di negara Anda orang yang hafidz Qur’an dan hadits dan ahli tafsir yang kerjanya sebagai operator di pabrik seperti lulusan SMA?”
Rektor : “Tidak ada”
Syaikh : “Itulah, jika Anda ingin mencetak generasi yang cerdas, bermartabat, bermanfaat bagi bangsa dan agama, serta mendapatkan pekerjaan yang layak, Anda harus merubah sistem pendidikan Anda dari orientasi dunia menjadi orientasi akhirat karena jika berorientasi pada akhirat insya Allah dunia akan didapat. Tapi jika sistem pendidikan hanya berorientasi pada dunia, maka dunia dan akhirat belum tentu akan didapat.” Syaikh mengakhiri dialognya dengan memberi nasehat kepada sang rektor, “Itulah sebabnya Anda tidak akan menemukan seorang santri yang hafidz Qur’an yang berprofesi sebagai tukang sapu atau buruh lepas walaupun orang tersebut tidak belajar sampai ke jenjang pendidikan yang tinggi karena Allah yang memberikan pekerjaan langsung untuk para hafidz Qur’an. Hafidz Qur’an adalah salah satu karyawan Allah dan Allah sayang sama mereka dan akan menggajinya lewat cara-cara yang menakjubkan. Tidak perlu gaji bulanan tapi hidup berkecukupan”.

Itulah gambaran realitas santri yang didefinisikan oleh  almaghfurlah Kyai Hasani Nawawi Sidogiri dengan maqalah beliau di atas. Secara umum, santri yang bertahun-tahun melewati pendidikan agama 24 Jam dengan sistem keteladanan (uswah hasanah) secara kontinyu dari kyai dan para ustadz akan lebih baik akhlak dan perilakunya dari pada mereka yang belajar hanya sebatas teori akhlak tanpa ada keteladanan dan bimbingan secara kontinyu. Inilah nilai plus dari santri dan pendidikan pesantren di samping kemudahan dan jaminan yang terkandung dalam hadits utama di atas.

Kisah Kedua
Suatu ketika ada seorang wanita pengusaha beragama Budha yang bertamu ke Pondok An-Nur 2 Bululawang Malang. Ia memberikan statement yang sangat mengagetkan pengasuh pondok.
Si Wanita berkata “Saya lebih senang memiliki karyawan yang berasal dari kaum santri dari pada kalangan profesional”.
Sang pengasuh pun sangat penasaran, lantas bertanya : “Kenapa demikian? Bukankah santri minim skill yang dibutuhkan di perusahaan anda dibanding seorang profesional yang sudah siap kerja?”.
Si Wanita menjawab “Santri itu memiliki tingkat kejujuran yang tidak dimiliki orang lain. Masalah skill saya bisa mentrainingnya satu sampai dua bulan di perusahaan saya namun saya tidak bisa mentraining seorang profesional untuk menjadi jujur dan amanah”.
Dan ternyata memang benar, di tahun-tahun belakangan ada beberapa santri yang minta legalisir ijazah pesantren untuk urusan pekerjaan.

Uraian ini kiranya membuka mata kita bahwa pendidikan islam (baca: pesantren) tidak kalah bagus dalam mencetak generasi yang berdaya saing dalam lapangan pekerjaan belum lagi kalau berbicara dekadensi moral yang melanda generasi muda mulai dari maraknya pornografi, pergaulan bebas, miras dan narkoba maka pesantren telah membuktikan kiprahnya sepanjang sejarah bangsa Indonesia ini sebagai solusi dari semua permasalahan manusia modern di atas.  Hal ini sebagaimana kutipan pidato sahabat Umar RA:
لاَ يَصْلُحُ آخِرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلاَّ بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا
“Dan tidaklah akan baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah baik pada awal umat ini”.
[Kanz al-Ummal]
________________________________________________

Nilai Minus Santri
Data sejarah reformasi (di Indonesia) selama ini masih menyimpulkan peran kaum santri tetap termarjinalkan dalam ruang publik disebabkan oleh tiga faktor berikut:
Pertama, minimnya publikasi. Peran media dalam menciptakan opini publik sangat dominan, sekecil apapun berita dan peristiwa yang dikemas oleh para kuli tinta dan diekspos melalui media massa (baik cetak maupun elektronik) akan menciptakan opini yang kuat di tengah masyarakat yang mengkonsumsinya. Sayangnya semangat “keikhlasan” yang tertanam dalam pribadi-pribadi kaum santri telah menggusur urgensi unsur propaganda media, padahal inti publikasi itu sendiri sebagai usaha dalam menumbuhkan sikap ghirah (tertarik untuk melakukan) pada orang lain dalam hal yang positif.  Sementara di sisi lain tidak jarang komnitas tertentu berani membayar pers demi kepentingan membangun image.
Kedua, lemah dalam sistematis jaringan. Lazimnya lembaga maupun organisasi yang mapan, jaringan yang sistematis adalah hal krusial dalam membangun link dengan pihak lain. Sebagai contoh: sekelompok santri yang peduli terhadap lingkungan hidup melalui program ro’an (kerja bakti) mingguan, biasanya hanya mengandalkan potensi internal komunitasnya saja, tanpa mencoba mengembangkan sayap kerja dengan berbagai pihak yang se-bidang, baik instansi pemerintah, swasta, maupun LSM. Jaringan kerjasama dengan pihak eksternal mutlak dibutuhkan dalam rangka melebarkan sayap kerja, yang secara otomatis masyarakat pun akan merasa lebih diayomi oleh para santri. Dengan relasi kerja ini pula, sekelompok santri peduli lingkungan dalam contoh di atas akan terdeteksi peran dan kontribusinya, akan terbaca lebih luas oleh masyarakat segala kiprahnya.
Ketiga, agenda temporer dan kondisional. Inilah faktor terakhir yang menyebabkan peran kontribusi kaum sarungan tampak kurang optimal. Kalau kita amati lebih jauh, ternyata banyak jenis kegiatan yang dimotori oleh kaum sarungan sifatnya hanya kondisional. Contohnya, pendidikan poilitik hanya sebatas menjelang tibanya pemilu. Selepas gegap gempita pesta demokrasi, program yang semestinya diadakan berkesinambungan di komunitas lenyap begitu saja. Atau pembekalan manajemen ekonomi dan bisnis, konsistensinya tidak menjadi target dalam mengadakan program kerja. Flash activities inilah yang sebenarnya berakibat pada hasil yang serba tanggung. Akhirnya masyarakat pun tidak sepenuhnya memahami apa yang ditargetkan oleh agenda kaum sarungan.
________________________________________________

Membumikan Al-Qur’an
Istilah membumikan Al-Qur’an bagi publik Indonesia memang terbilang baru mencuat ke permukaan sejak Prof M Quraish Shihab menulis karya monumental pada 1994 dengan tajuk Membumikan Al-Qur’an; Fungsi dan Kedudukan wahyu dalam Kehidupan Bermasyarakat. Kalimat itu lantas populer di kalangan cendekiawan, mahasiswa, dan tak terkecuali para juru dakwah. Membumikan Al-Qur’an maknanya mengimplementasikan nilai-nilai luhur Kitab Suci tersebut di kehidupan sehari-hari. Namun, sebenarnya usia dari substansi apa yang diperkenalkan itu cukup tua bersamaan dengan diturunkannya misi yang dibawa Rasulullah SAW, sebab sebagaimana Umar bin Khatab RA berkisah, tak pernah satu pun ayat yang sahabat pelajari langsung dari Rasul kecuali telah mereka praktikkan. Begitulah tujuan risalah agar nilai-nilai Qurani teraplikasikan dalam kehidupan riil di bumi, bukan mengawang-awang di langit.
________________________________________________

Membumikan Nilai-Nilai Perdamaian dalam Al-Qur’an
Akhir-akhir ini Agama Islam selalu diidentikkan dengan kekerasan dan terorisme. Islam, sebagaimana agama lainnya, selalu mengajarkan perdamain dalam sendi-sendi kehidupan. Islam mengajarkan kerukunan, perdamaian dan sangat menjunjung tinggi harkat kemanusian. Sehingga, apa pun alasan dan bentuknya, kekerasan atas nama agama tidak bisa dibenarkan dalam Islam. Namun, seringkali implementasi ajaran Islam di lapangan mengalami tolak belakang. Tak ayal, hingga hari ini, tindakan intoleransi seperti intimidasi, kekerasan, dan penyerangan kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas dengan dalih agama masih terus terjadi di depan mata kita. Dan, ironinya, hampir semua tindak teror dan intoleransi itu dilakukan oleh umat yang mengaku beragama Islam. Tentunya, ini sekaligus menampar wajah Islam yang cinta dengan perdamaian.
Dr. H. Imam Taufiq, M.Ag  dalam disertasinya menjawab prasangka buruk yang disematkan kepada Agama Islam. Ia menawarkan gagasan Qur’ani tentang bagaimana membangun perdamaian ideal dalam masyarakat Indonesia yang plural. Menurut beliau, praktik perdamaian sudah tampak dari ucapan “salam”. Sebuah kata yang memiliki hubungan semantik dengan “Islam”. Ucapan salam berupa assalamu’alaikum merupakan bentuk aktualisasi perintah moral Al-Quran yang menjunjung tinggi arti perdamaian dan kedamaian. Praktik perdamaian juga jelas terekam dalam tradisi dan hidup Nabi. Beliau menempatkan perdamaian pada posisi yang penting dalam Islam, seperti yang ditunjukkan dengan persaudaraan kaum Ansor dan Muhajirin. Dalam kerangka yang lebih luas, kualitas iman seseorang dapat diukur dengan sejauh mana kesalehan dalam kehidupan sosial, sejauh mana ia dapat memberi dan menjamin kedamaian bagi keberlangsungan kehidupan yang harmonis. Imam juga menegaskan bahwa damai merupakan fitrah dalam Al-Qur’an. Hal ini karena Islam merupakan agama  fitrah (din al-fitrah). Tak ayal, menurutnya, terdapat kaitan antra fitrah jiwa manusia dan fitrah agama Islam. Fitrah damai dalam diri seseorang akan selalu beriringan dengan fitrah agama. Ketika agama mengajarkan perdamaian, berarti fitrah jiwa juga sinergis dengan ajaran agama tersebut. Dengan kata lain, selama manusia mampu menjaga fitrah jiwanya, ia akan menjalankan agama sebagaimana fitrahnya.
Lebih lanjut, Imam menuturkan bahwa perdamaian Islam dibangun di atas tiga pilar; Islam, iman, dan ihsan. Keimanan seseorang berbuah ketika mampu mendatangkan kebaikan dan kedamaian bagi dirinya sendiri dan orang lain. Sementara, dalam konteks perdamaian, ihsan merupakan wujud internalisasi dari prinsip Islam dan nilai keimanan seseorang agar mampu mencapai kondisi ideal dalam menjalani kehidupannya. Ihsan memungkinkan masyarakat untuk berada dalam cinta, kasih sayang, persaudaraan, dan persahabatan. Penghayatan serta pengamalan penuh Islam, iman, dan ihsan akan menjadi modal utama bagi terciptanya ketentraman, keharmonisan, dan kedamaian. 
Sementara itu, untuk mewujudkan konsep perdamaian dalam Al-Qur’an, Imam menawarkan segitiga sinergis perdamaian. Konsep ini dibangun di atas dasar hubungan sinegis antara tiga komponen pembangun perdamaian, yakni pendamai, strategi perdamaian, dan tujuan perdamaian. Ketiga komponen ini tidak bisa berdisi sendiri-sendiri akan tetapi harus saling melengkapi, saling terkait, dan saling memperkuat. Al-Qur’an mengajarkan bahwa strategi utama untuk membangun perdamaian adalah dengan jalan ishlah.
Ishlah menggambarkan bahwa ketika terdapat dua orang berseteru dan berselisih, kita diperintahkan untuk mendamaikan dan menemukan titik temu kesepahamannya agar tidak terjadi pertikaian. Dalam kondisi ini, ishlah tidak bisa bergerak sendiri, tetapi butuh piranti strategis-teknis, di antaranya musyawarah, makruf, ‘afw, dan hikmah. Terakhir, Imam berusaha membawa dan menerapkan konsep perdamaian tersebut ke dalam kehidupan keluarga dan sosial. Untuk mewujudkan perdamaian di keluarga, Al-Qur’an menekankan keharusan adanya pemenuhan hak dan kewajiban setiap anggota keluarga dalam pergaulan yang baik dengan berlaku adil, kasih sayang, dan musyawarah. Sementara, secara garis besar, pandangan Al-Qur’an tentang perdamaian yang semestinya diimplementasikan umat Islam di tengah bangsa plural seperti Indonesia, meliputi; Pertama, orang Islam harus sadar bahwa Al-Qur’an adalah salah satu kitab suci yang mendorong kebebasan setiap orang untuk memilih agama tertentu. Kedua, dalam upaya membangun perdamaian personal, interpersonal, dan intrapersonal, dibutuhkan tafsir Al-Qur’an yang lebih menghargai pihak lain. Sebab, tafsir eksklusif justru akan bersifat diskriminatif kepada pihak lain, dan hal ini tidak senafas dengan cita-cita perdamaian. Ketiga, setiap orang perlu menghapus stigmatisasi dan generalisasi menyesatkan bahwa Islam adalah agama teroris yang mengedepankan kekerasan dalam menangani segala persoalan.
________________________________________________

Kulino is from Ngulino for growing Witing Tresno
Anda tidak akan menjadi insan cinta damai jika sebelumnya tidak terbiasa untuk berdamai, sebab sebelumnya memang tidak pernah membiasakan nuansa damai.
Santri yang benar-benar santri adalah sosok yang awalnya terpaksa mendamaikan hatinya agar tidak susah dengan segala keterbatasan di sekitarnya, entah itu keterbatasan uang, peralatan atau bahkan waktu. Seberapa lama ia bertahan di pondok pesantren juga bergantung pada seberapa jauh ia mengerti dan memahami bahwa keusilan kawannya tidak untuk ditangisi dan kejahilan sahabatnya tidak untuk di-bully. Dengan nuansa pesantren yang multikultur dan sangat dinamis kesehariannya, santri ibarat berada di laboratorium kehidupan agar ia siap kelak berkehidupan di alam nyata setelah berkeluarga. Keterpaksaan untuk berdamai di awal nyantri lantas menjadi kebiasaan yang dinikmati itulah yang menjadi bekal di masyarakat agar santri mengaktualisasikan nilai-nilai perdamaian qur’ani yang telah dilatihnya di pesantren.
Gus Sholihuddin Lasem pernah menuturkan bahwa santri ibarat air laut yang sifatnya nompo opo wae lan iso dadi opo wae. Segala limbah yang diterimanya tidak menjadikannya keruh dan teguh prinsipnya untuk selalu asin. Tetapi, pada saat manfaatnya dibutuhkan lebih banyak lagi ia bisa bertransformasi menjadi air siap saji setelah ditempa lewat proses penyulingan menjadi air tawar. Hanya di lautlah mutiara bisa dijumpai dan hanya pada diri santri itulah keagungan akhlak dapat bersanding indah dengan keilmuan yang bertali sanad hingga pada sumber tertinggi. Di lautan, kandungan minyak mentah yang terkubur di dalamnya jauh lebih besar jumlahnya dari sumber manapun di bawah daratan, sebab proses pembentukannya yang lebih istimewa. Dua benda itu (mutiara dan minyak bumi) adalah komoditas termahal dan selalu dicari di dunia ini. Dengan kata lain, mahalnya kedudukan santri sebanding dengan proses yang dijalani dalam membentuk karakternya. Santri kudu ngaji, kaji, tur aji. Hanya dengan kombinasi proses tersebutlah seorang santri bisa membumikan Al-Qur’an tidak hanya secara parsial-klasikal, tetapi sudah pada taraf integral-millenial.

Catatan:
1.    Tak tandur pari jebul tukule malah suket teki, pameo santri tahfidh sing tandurane ora kopen amargi luru duniawi
2.    Santri salafiyah membumikan Al-Qur’an, santri selfiyah mengebumikan Al-Qur’an?
3.    وما يلي المضاف يأتي خلفا ... عنه في الاعراب إذا ما حذفا Mudlaf Ilaih [santri] bisa tampil ke muka, menggantikan mudlaf [kiai] jika ia telah tiada (wejangan dari Ibnu Malik Al-Andalusiy)




Pengumuman

>> Lihat Semua Pengumuman

Agenda

>> Lihat Semua Agenda

Download

Video Youtube